Diam Adalah Jawaban Terbaik Bagi Mulut Yang Kotor

Curhat dikit ah😀. Beberapa hari ini saya sedikit agak dibuat menurun kesabarannya karena sebuah perkataan atau kita sebut saja “stempel” yang diberikan kepada saya. Kalau stempelnya bagus sih okelah, tapi kalau stempelnya jelek, salah pula,,,wah ini yang bikin gak terima.

Karena merasa stempel itu tidak benar sama sekali, saya marah dong. Dan ceritanya ajang balas dendam pun digelar. Saling hantam di social network (konyol :D), macam artis yang pada perang status aja nih. Sekali dua kali masih kuat, tapi setelah bertubu-tubi akhirnya saya menyerah. Saya merasa sudah terlalu jauh menyimpang dari naluri asli saya (ceileee..). Karena ingin hidup tenang tanpa orang yang belum tentu mengerti saya itu, akhirnya saya remove lah dia dari pertemananan. Case closed kan

Selang beberapa hari, saya baca-baca lagi tu timeline saya ketika sedang “berperang” dengan seorang yang telah dengan senang hati memberikan cap jelek kepada saya. Astaga Ya Tuhan.. baru sadar tu, timeline saya penuh dengan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya berada di situ. Waduh-waduh… Karena kondisi saya sudah adem baru lah pikiran jernih saya bekerja😀. Untuk apa saya mengotori timeline dengan argumen-argumen yang bernada sarkasme hanya untuk menegaskan bahwa “saya tidak seperti yang kamu tuduhkan”. Kalau hal-hal semacam itu dilakukan anak-anak ABG, mungkin masih wajar, namanya juga masih dalam masa yang labil. Tapi kan saya sudah tidak ABG lagi😦. Bukankah hal-hal semacam itu justru hanya mengotori dan memberi citra yang buruk, gak jelas juga itu ucapan untuk siapa.

Logikanya, kalau memang saya tidak sepeti yang ia tuduhkan, semestinya saya gak perlu ngamuk dong, gak perlu marah dong. Sudahlah Widya, masih ada banyak cara yang lebih anggun untuk menghadapi orang yang seperti itu. Dia kan tidak mengenal saya, dan apa yang dia tuduhkan juga tidak benar, untuk apa saya permasalahkan dengan mengotori timeline, dengan menghabiskan energi untuk marah-marah, dengan nyari-nyari kesempatan balas dendam.Untung akhirnya sadar, kalo enggak bisa kebablasan tuh.😀

Kalau kata Pak Mario Teguh sih begini :

Anda tidak harus selalu menang dalam berdebat.

Karena,

Cara terbaik untuk menang dalam sebagian besar perdebatan adalah diam.

Karena, lagi …

Orang yang yakin bahwa dia benar, tidak akan merasa harus menjelaskan.

Hanya orang yang tidak yakin mengenai pendapatnya, yang akan sibuk menjelaskan.

Maka, … diamlah.

Damailah dalam kebenaran yang Anda yakini.

Ada lagi🙂

Adikku yang hatinya masih mudah marah karena cemooh orang lain, dan yang darahnya mudah mendidih dengan rencana untuk membalas.

Janganlah merendahkan dirimu sendiri dengan juga melakukan yang dilakukannya.

Katakanlah …

“Diam adalah jawaban terbaik bagi mulut yang kotor.”

Jangan membalas. Sabarkanlah dirimu.

Lakukanlah yang penting, yang akan menjadikanmu lebih berhasil daripadanya.

Gumamkanlah di dasar hatimu …

“Lihat saja nanti.”

Yap, dan ternyata benar sekali, saya tidak perlu ngotot-ngotot untuk mebuktikan bahwa saya benar kan, cukup diam dengan kebenaran yang saya yakini🙂 Semestinya kan saya semakin giat mendekat pada hal-hal yang baik, yang semakin menguatkan karakter saya, yang semakin memperindah kualitas saya, dan yang akan semakin membuktikan bahwa saya tidak seperti yang ia tuduhkan.

Jadi ingat nasihat seseorang kepada saya

Untuk apa mikirin kata orang yang tidak benar. Belum tentu orang yang menilai buruk terhadapmu lebih baik daripada kamu…
Jadi semakin melek deh, dia yang memberi saya cap jelek kan tidak mengenal betul siapa saya, buktinya ngasih stempel aja salah😀, saya juga sama sekali tidak seperti yang ia tuduhkan. Jadi untuk apa marah-marah, untuk apa merendahkan diri sendiri, saya bukan anak ABG lagi kan😀

Andai saja kemarin-kemarin bisa berpikir jernih, pasti gak perlu berkerut-kerut, gak perlu berotot-otot untuk sekedar bilang “Aku bukan seperti itu”. Tapi anyway, mestinya saya berterima kasih ya kepada dia, karena dari dia saya bisa belajar hal lain, belajar tenang di tengah kata-kata buruk, dan belajar diam ketika memang tak ada gunanya untuk berteriak-teriak🙂

Ini real story lho, tanpa bermaksud apapun, semoga ada manfaatnya🙂

12 thoughts on “Diam Adalah Jawaban Terbaik Bagi Mulut Yang Kotor

  1. dalam falsafah jawa: Becik ketitik olo ketoro,ojo rumongso iso ananging iso rumongso.

    dalam bahasa arab: Kun Fariyan wala takun Fakisan….(ndak perlu de tejermahin kayaknya).

    Semangat ya sist,ada kalanya diam itu emas,

  2. Semangat mbaaa,,,
    kadangkala emang kita salah mengambil sikap atau bertindak. tapi, nilai plusnya setelah diam dan berfikir jernih. akhirnya bisa belajar dari apa yang telah terjadi.
    Kata Mario Teguh lagi “mumpung masih muda banyak-banyak lah berbuat salah, bila yang muda berbuat salah akan mudah dimaklumi. Ketika salah kita belajar menjadi benar”. Kan rugi kalo belajarnya pas udah tua.

  3. “Untuk apa mikirin kata orang yang tidak benar. Belum tentu orang yang menilai buruk terhadapmu lebih baik daripada kamu…“

    Setuju berat sama yang ini , supeer sekali😀

    • setuju, kalo ini diam nya bukan karena tak tahu apa yang hrus dikatakan, tapi lebih pada diam karena percuma bicara dengan orang yang tidak mengerti, hehehe

      terimakasih sudah mampir, salam kenal balik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s